Selasa, 08 Februari 2011

Peribahasa dengan kata "ada"

Ada gula ada semut.
Orang akan berdatangan ke tempat yang menyenangkan.
Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan.
Susah dan senang ditanggung bersama.
Ada udang di balik batu.
Mempunyai maksud tersembunyi, biasanya maksud yang picik.
Ada batang, ada cendawan, ada cendawan tumbuh.
Di mana kita berada, selalu ada rezeki.
Ada asap ada api.
Ada sebab tentu ada akibatnya.
Ketika ada jangan dimakan, telah habis baru dimakan.
Memiliki simpanan yang digunakan bila tak ada penghasilan tetap.
Ada ubi ada talas, ada budi ada balas.
Setiap perbuatan baik selalu ada ganjaran kebaikannya.
Asal ada, kecilpun pada
Walaupun hanya sedikit, tetapi cukup juga.

Read more...

Peribahasa dengan kata "abun"

Gila di abun-abun
• Mengangankan sesuatu yang tak mungkin diperoleh.

Read more...

Sabtu, 29 Januari 2011

Peribahasa dengan kata "abu"


Seperti abu di atas tunggul.
Kedudukan yang tidak kuat
Sudah jadi abu arang.
Telah rusak sama sekali (tak dapat diperbaiki lagi).
Telentang sama makan abu, tertelungkup sama makan tanah.
Sama-sama setia dalam suka dan duka, seia sekata.
Terpegang di abu hangat.
Baru memulai suatu pekerjaan sudah mendapatkan kesusahan.
Kalah jadi abu menang jadi arang.
Yang kalah dan yang menang sama-sama rugi, sama-sama rusak.
Berdiang di abu dingin.
Mengharapkan pertolongan kepada orang yang lemah.

Read more...

Jumat, 21 Januari 2011

Apakah hipernim sinonim kata umum?

Tanya

(Tanggapan terhadap "Kata Umum dan Kata Khusus")

Ku suka bahasa Indonesia. Apakah hipernim itu sinonimnya kata umum?

Jawab

Sebenarnya kata umum bukan sinonim hipernim, tapi kata umum dapat dianggap sinonim hipernim, agar anak-anak mudah mempelajarinya.

Beda antara kata umum dan hipernim adalah pada tinjauannya.

Hipernim berada dalam tinjauan "relasi makna".

Kata umum dan kata khusus berada dalam tinjauan kategorisasi kata berdasarkan citra.

Selain itu, suatu kata membutuhkan kata lain untuk bisa disebut hipernim. Tapi untuk disebut kata umum, suatu kata tidak perlu kata lain. Bila sudah memenuhi syarat "tidak spesifik" atau tidak memunculkan suatu citra dalam pikiran atau citra dalam pikiran pembaca berbeda-beda dengan perbedaan yang luas, maka sudah bisa digolongkan kata umum.

Sebagai contoh kata "kendaraan" saja bisa langsung disebut kata umum. Kita tidak perlu kata lain untuk dapat menggolongkan kata "kendaraan" sebagai kata umum. Kata "kendaraan" dikategorisasikan kata umum karena citra yang terbayang dalam pikiran begitu membaca atau mendengar kata umum itu sangat beragam di kalangan pembaca/ pendengar. Ada yang membayangkan pesawat terbang, becak, mobil, sepeda, dan ada yang bahkan tidak bisa membayangkan sama sekali.

Untuk dapat menggolongkan kata "kendaraan" sebagai hipernim, maka kata "kendaraan" harus dihubungkan dengan kata lain. Sebutlah misalnya kata "mobil". Lalu pertanyakan, apakah kata "mobil" tercakup dalam kata "kendaraan"? Apabila jawabannya adalah "ya", maka barulah kita dapat menyimpulkan bahwa kata kendaraan adalah hipernim dari kata "mobil".

Bila kata "kendaraan" dan kata "mobil" dipandang bukan dari ketercakupannya tapi dipandang dari mana yang memberikan citra yang lebih spesifik, maka kita dapat menyatakan bahwa kata "mobil" relatif lebih khusus daripada kata "kendaraan" dan kata "kendaraan" relatif lebih umum daripada kata "mobil". Dari sini kita dapat mengetahui bahwa selain penggolongan kata umum dan kata khusus, juga ada penggolongan kata umum relatif dan kata khusus relatif.

Kata yang sama dapat disebut hipernim atau kata umum tergantung dari tinjauannya. Bila ditinjau dari relasi makna, maka kata yang maknanya mencakup makna kata-kata lain disebut hipernim. Bila ditinjau dari citranya, maka kata yang tidak menimbulkan citra dalam pikiran atau yang menimbulkan citra yang beraneka ragam dalam pikiran pendengar/ pembaca disebut kata umum.

Read more...

Rabu, 17 November 2010

Pekan Raya

Seorang gadis dari desa pergi ke kota mengunjungi pekan raya. Parasnya molek. Wajahnya mengandung seri bunga Bakung dan Mawar. Rambutnya bak matahari senja. Fajar bagai merekah pada bibirnya.

Begitu muncul gadis desa yang cantik itu, dalam sekejap mata pemuda-pemuda mendekat dan mengerumuninya. Ada yang ingin menari dengannya, ada yang ingin memotong kue untuk menghormatinya. Dan semua ingin mencium pipinya. Bukankah itu dalam pekan raya?

Tapi gadis itu kaget dan terhenyak; ia berprasangka buruk terhadap pemuda-pemuda itu. Ia memaki-maki, bahkan menampar muka satu dua orang, lalu lari menjauh.

Dalam perjalanan pulang malam itu, ia berkata dalam hati, "Aku muak. Laki-laki tak sopan dan kurang ajar. Sialan!"

Setahun lewat sudah, dan selama itu gadis yang amat molek itu sering terkenang akan pekan raya dan anak-anak muda. Maka pergilah ia berkunjung lagi ke pekan raya, dengan wajah mengandung seri bunga Bakung dan Mawar, rambut bak matahari senja, dan fajar merekah pada bibir.

Tapi anak-anak muda yang melihatnya langsung berpaling muka. Sepanjang hari, gadis itu tak ada yang mendekatinya sehingga kesepian.

Sore itu, sepanjang jalan pulang, ia menangis dalam hati, "Aku muak. Laki-laki tak sopan dan kurangajar. Sialan." (Khalil Gibran)

Read more...

Selasa, 16 November 2010

Orang Ketiga Pengamat

Direktori

Pencerita berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan pada pelaku serta tidak tahu mengenai apa yang ada dalam batin para pelaku atau tahu apa yang ada dalam batin pelaku hanya sampai batas tertentu (tidak serba tahu). Sebagai seorang peninjau/ pengamat, dia hanya menceritakan dalam batas yang terindra (teramati mata, terdengar telinga, dsb). Cerita mengenai suasana batin lebih terbatas. Pencerita mengisahkan tokoh-tokoh dalam kisahnya menggunakan kata ganti orang ketiga ("ia", "dia", "mereka") atau nama.

Bahkan andai pun cerita yang disampaikanya adalah kisah nyata dan si pencerita terlibat langsung di dalam kejadian sesungguhnya yang diceritakannya, si pencerita tetap akan menggunakan kata ganti "dia" untuk dirinya sendiri atau menyebut namanya seolah-olah dia sedang menceritakan orang lain, meski sebenarnya dia sedang menceritakan dirinya sendiri.

Sudut pandang ini adalah sudut pandang yang terbatas, karena apa yang disampaikan terbatas pada apa yang teramati oleh indera dan pada suasana batin yang diceritakan pun hanya sampai batas-batas tertentu, tidak seleluasa sudut pandang maha tahu.

Contoh sudut pandang ini dapat kita temukan pada cerita-cerita yang diangkat dari kisah nyata yang ditulis oleh si pelaku kisah nyata itu sendiri, misal "Sayap-Sayap Patah" karya Khalil Gibran.

Read more...

Orang Ketiga Maha Tahu

Direktori

Pengarang menjadi pengamat dari para pelaku, tetapi juga merupakan pengisah yang serba tahu, termasuk tahu apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang diceritakannya. Pengisah menyebut nama-nama pelaku dengan menggunakan kata ganti orang ketiga ("ia", "dia", "mereka"). Dia bisa berada di dalam cerita sebagai orang ketiga tapi bisa juga berada di luar cerita seperti seorang dalang.

Dia tidak terlibat secara langsung dalam keseluruhan satuan dan jalinan cerita, tapi dia tahu segala sesuatu mengenai pelaku, maupun kemungkinan kadar nasib yang bakal dialami para pelaku. Narator jenis ini dapat menceritakan apa yang ada dalam batin pelaku (sudut pandang maha tahu), tapi bisa juga tidak (sudut pandang obyektif).

Contoh penggunaan sudut pandang ini adalah "Opera van Java". Narator (Parto) selaku dalang sering menggunakan teknik bercerita ini. Kadang menempatkan diri di luar cerita, tapi terkadang menempatkan diri di dalam cerita sebagai tokoh yang terkesan tak penting (tambahan).

Read more...

Orang Pertama Pengamat

Direktori

Pencerita tidak menjadi tokoh utama. Dia berada dalam cerita tapi hanya sebagai tokoh tambahan. Melalui mata si tokoh tambahan ini pembaca diajak untuk melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita. Suasana batin yang diceritakan sebatas si "aku", sedangkan suasana batin tokoh lain terbatas.

Read more...

Orang Pertama Maha Tahu

Direktori

Pencerita juga berfungsi sebagai pelaku cerita sehingga menjadi penutur yang serba tahu tentang apa yang ada dalam benak pelaku utama dan apa yang ada pada benak para pelaku yang lain, baik secara fisik maupun psikologis. Itulah sebabnya disebut Pencerita Maha Tahu. Dalam sudut pandang ini, pencerita menyebut pelaku utama dengan menggunakan kata ganti orang pertama ("saya", "aku", dsj).

Contoh penggunaan sudut pandang ini antara lain pada cerpen-cerpen remaja.

Read more...

Sudut Pandang Penceritaan

(Serial Unsur Intrinsik Teknik Bercerita, Unsur Intrinsik Sastra)


Narator
Omniscient (Maha Tahu)
Observer (Pengamat)
Orang pertama ("Aku", Saya")

Orang Pertama Pengamat

Orang ketiga ("dia", "mereka", nama)

Orang Ketiga Maha Tahu, disebut juga narrator observer omniscient

Orang Ketiga Pengamat

Read more...

Minggu, 14 November 2010

be held back a class=tinggal kelas, tidak naik kelas

Contoh:


  1. I live in England, where being held back a class is extremely rare, particulary in state schools (non-paying schools).

    Saya tinggal di Inggris, dimana sangat jarang terjadi kejadian tinggal kelas (tak naik kelas), khususnya di sekolah-sekolah negeri (sekolah gratis).

  2. I can't remember exactly what his punishment was, but he lost rank and got held back a class in school.

    Aku tak dapat ingat persisnya apa hukumannya, tapi dia kehilangan ranking kelasnya dan tinggal kelas di sekolah.


Read more...

Rabu, 29 September 2010

Air Mata dan Gelak Tawa

Suatu senja di tepi Sungai Nil, bertemulah seekor dubuk dengan seekor buaya; keduanya berhenti dan saling memberi salam.

Dubuk berkata, "Apa kabar, Tuan?"

Buaya menjawab, "Buruklah nasibku. Terkadang dalam penderitaan dan kesedihan, aku menangis. Tapi semua makhluk selalu mengatakan 'Itu hanya air mata buaya'. Tiada terkira kata-kata itu melukai hatiku."

Dubuk menyahut, "Tuan mengatakan perihal penderitaan dan kesedihanmu, tapi pikirkan juga barang sejenak pengalamanku. Aku suka memandang keindahan dunia, keanehan, dan keajaibannya, dan karena begitu sukacita, aku tertawa seperti dunia yang lagi bersukaria. Tapi semua penghuni hutan berkata 'Itu hanya gelak tawa dubuk'."

Read more...

Selasa, 17 Agustus 2010

Elang dan Nuri

Nuri dan Elang bertemu di atas batu sebuah bukit. Nuri menyapa,

"Mat Pagi, Tuan."

Elang menatapnya dan menjawab pendek,

"Mat Pagi."

Nuri melanjutkan,

"Baik-baik saja, Tuan?"

"Hai," jawab Elang, "Baik saja. Tapi tak tahukah kamu bahwa aku raja semua burung, sehingga tidak boleh menyapa sebelum aku mengucapkan sesuatu?"

Kata Nuri,

"Saya kira kita sekeluarga."

Elang memandangnya dengan cemooh, ujarnya,

"Siapa yang pernah mengatakan bahwa kamu dan aku sekeluarga?"

Nuri berkata lagi,

"Tapi ingatlah, saya dapat terbang tinggi setinggi terbang Tuan, lagi pula saya dapat menyanyi serta memberi kesenangan kepada makhluk lain di bumi ini. Sedangkan Tuan tidak."

Elang marah, serunya,

"Kesenangan dan kegembiraan! Kamu makhluk kecil dan lancang! Dengan sekali patukan paruh aku dapat membinasakanmu. Kamu cuma sebesar kakiku."

Nuri itu terbang, selanjutnya hinggap di atas punggung Elang dan mencabuti bulunya. Elang marah, melesat terbang membubung agar dapat melepaskan burung kecilitu dari punggung. Tapi tak berhasil. Akhirnya ia turun kembali ke atas batu di bukit semula. Ia makin marah karena makhluk kecil itu masih tetap bertengger di punggungnya.

Saat itu datanglah kura-kura. Ia mendekat dan tertawa melihatnya. Begitu keras ia tertawa sehingga tubuhnya nyaris terbalik.

Elang menatap kura-kura dan ujarnya,

"Hai, Perangkak Lamban, apa gerangan yang kamu tertawakan?"

Jawab kura-kura,

"Ternyata burung kecil itu lebih unggul darimu."

Elang menyahut, "Jangan campur tangan! Ini urusan keluarga antara aku dan kakakku, Nuri.

Read more...

Rabu, 28 Juli 2010

Lagu Cinta

Seorang penyair pernah menggubah lagu cinta yang indah. Lagu itu diperbanyak, dikirimkannya kepada teman dan kenalan, pra dan wanita, dan juga kepada seorang wanita muda yang baru saja dikenalnya — wanita muda yang tinggal di seberang bukit.

Sehari atau dua hari kemudian, balasan surat wanita itu datang. Dalam surat itu tertulis, "Izinkan aku meyakinkan bahwa aku sangat terharu oleh lagu cinta yang kaugubah untukku. Datanglah, temuilah bapak dan ibuku, selanjutnya kita mempersiapkan pertunangan."

Si penyair menjawab surat itu, tulisnya, "Kawan, itu hanya sebuah lagu cinta yang lahir dari kalbu penyair, dinyanyikan oleh setiap pria dan wanita."

Wanita itu menulis surat lagi, bunyinya, "Munafik, pendusta! Sejak hari ini sampai mati aku membenci semua penyair."

(Kahlil Gibran)

Read more...

Lagu Cinta

Seorang penyair pernah menggubah lagu cinta yang indah. Lagu itu diperbanyak, dikirimkannya kepada teman dan kenalan, pra dan wanita, dan juga kepada seorang wanita muda yang baru saja dikenalnya — wanita muda yang tinggal di seberang bukit.

Sehari atau dua hari kemudian, balasan surat wanita itu datang. Dalam surat itu tertulis, "Izinkan aku meyakinkan bahwa aku sangat terharu oleh lagu cinta yang kaugubah untukku. Datanglah, temuilah bapak dan ibuku, selanjutnya kita mempersiapkan pertunangan."

Si penyair menjawab surat itu, tulisnya, "Kawan, itu hanya sebuah lagu cinta yang lahir dari kalbu penyair, dinyanyikan oleh setiap pria dan wanita."

Wanita itu menulis surat lagi, bunyinya, "Munafik, pendusta! Sejak hari ini sampai mati aku membenci semua penyair."

(Kahlil Gibran)

Read more...

Senin, 12 Juli 2010

Pakaian

Suatu hari si Cantik dan si Buruk bertemu di pantai. Keduanya saling mengajak, "Mari kita mandi di laut."

Keduanya menanggalkan pakaian, kemudian berenang. Tak berapa lama si Buruk kembali ke pantai, lalu mengenakan pakaian si Cantik, lantas pergi.

Si Cantik pun kembali ke pantai. Ia tak dapat menemukan pakaiannya; karena malu telanjang, dikenakanlah pakaian si Buruk.

Sampai kini kita tak dapat mengenali mereka masing-masing.

Namun ada juga yang dapat mengenali wajah si Cantik, meski pakaiannya demikian. Dan ada pula yang dapat mengenali wajah si Buruk, karena pakaiannya tak dapat menyembunyikannya.

(Kahlil Gibran)

Read more...

Sang Musafir

Aku berjumpa dia di perempatan – seorang lelaki yang hanya berjubah dan bertongkat, dengan kerudung penderitaan pada wajahnya. Kami saling mengucapkan salam, lalu aku berkata padanya, "Singgahlah ke rumahku sebagai tamu."

Ia pun ikut aku pulang.

Istri dan anakku menyongsong kami di ambang pintu; orang itu tersenyum pada mereka, dan mereka pun menyambut hangat kedatangannya.

Kami duduk makan bersama. Kami pun merasa akrab bersama dia, yang berwajah sunyi dan gaib.

Setelah makan, kami berkumpul dekat pendiangan. Kami bertanya perihal pengembaraannya.

Malam itu ia bercerita panjang kepada kami, begitu pula esok harinya. Wajahnya ramah, tapi tersirat jejak penderitaannya. Kisahnya mengenai derita dan kepedihan sepanjang perjalanan.

Dan bila ia meninggalkan kami tiga hari kemudian, kami pun lebih merasa bahwa seorang di antara kami masih berada di halaman dan belum masuk ke dalam rumah.

(Kahlil Gibran)

Read more...

Senin, 21 Juni 2010

Kutipan Tak Langsung

Kutipan tak langsung adalah suatu kutipan di mana dalam kutipan tersebut seorang penulis mengutip pokok pikiran penulis lain, tapi si penulis tersebut memasukkan pemikiran penulis lain itu ke dalam tulisannya dengan menggunakan kata-kata sendiri, dan bukannya mengutip secara literal, agar pemikiran tersebut lebih mudah ditangkap, dimengerti, dan dipahami oleh segmen pembacanya. Di samping itu, kutipan tidak langsung juga digunakan agar kutipan tersebut terintegrasi penuh ke dalam teks yang sedang ditulis dan agar tulisan tersebut jadi mengalir, sehingga lebih enak dan lebih mudah dibaca.

Kutipan tak langsung dilakukan dengan menggunakan dua teknik, yaitu parafrase dan meringkas.

Penulisan kutipan tak langsung dalam teks yang sedang ditulis oleh seorang penulis tidak perlu dituliskan di dalam tanda kutip ganda. Meski demikian, penulis masih perlu untuk menuliskan sumber dari kutipan tak langsungnya itu, karena, meskipun penyampaiannya menggunakan kata-kata sendiri, namun pokok pemikirannya berasal dari penulis lain.

Dalam bahasa-bahasa modern, kutipan tak langsung tidak dituliskan di dalam tanda kutip ganda dan diakhir dengan teks sumber yang dikutip itu beserta tahunnya. Dalam tata bahasa Yunani kuno, semisal dalam naskah kuno Injil, tidak adaaturan tata bahasa semacam itu. Kutipan tidak langsung dari kitab-kitab Alkitab Perjanjian Lama banyak digunakan, tapi tidak disertai tahun sumber dan tidak selalu disertai dikutip dari kitab apa.

Contoh kutipan tidak langsung (bandingkan dengan contoh kutipan langsung)

  1. Kumpulan dan susunan pikiran kita itu disebut skemata, itu yang Rumelhart bilang (1981: 33).
  2. Saya nyatakan kepada anda, skemata itu konstrak (Rumelhart, 1981: 33).

Dengan membandingkan antara kutipan tidak langsung dan kutipan langsung itu, kita dapat melihat bahwa contoh nomor satu adalah kutipan tidak langsung dalam suatu tulisan yang dikemas secara ringan dengan segmen orang yang agak enggan berpikir berat, sedang kutipan tidak langsung dalam contoh kedua disampaikan dalam tulisan yang memberi kesan suatu diskusi panas.

Kutipan tidak langsung selalu terkait dengan konteks, baik itu konteks internal (teks) maupun konteks internal (pembaca).

Read more...

Kutipan Langsung

Kutipan langsung adalah kutipan yang dikutip oleh seorang penulis secara literal huruf demi huruf, kata demi kata, atau kalimat demi kalimat dari teks lain dan dimasukkan secara persis sama ke dalam teks yang ditulisnya.

Kutipan langsung juga dapat dikutip dari sumber tertulis dan dari sumber lisan atau sumber tak tertulis. Pengutipan dengan menggunakan sumber tak tertulis lebih lemah daripada kutipan dari sumber tertulis. Untuk memperkuat kutipan lisan, penulis dapat menyalin kutipan langsung dan meminta pengesahan dari si pembicara lisan itu bahwa memang dia yang mengucapkan kata-kata tersebut. Pengesahakan dapat dilakukan menggunakan paraf, tanda tangan, atau bahkan segel atau materai.

Dalam bahasa-bahasa modern, kutipan langsung dituliskan di dalam tanda kutip ganda ("...") dan diakhir dengan teks sumber yang dikutip itu beserta tahunnya bila dimasukkan dalam kalimat atau ditampilkan dalam bentuk blok, bila berdiri sendiri. Dalam bahasa-bahasa kuno, aturan tata bahasa semacam itu tidak ada, karena tanda baca semacam tanda kutip ganda belum dikenal. Dalam naskah Injil kuno, kutipan langsung juga tidak dibedakan dari kutipan tidak langsung, karena dalam bahasa Yunani Kuno tidak dikenal sama sekali tanda baca, bahkan spasi antar kata pun belum dikenal.

Contoh kutipan langsung:

  1. Kenyataannya, Rumelhart menyatakan bahwa skemata adalah "benar-benar blok konstruksi kognisi" (1981: 33).
  2. Saya berani menyatakan kepada anda bahwa skemata adalah "benar-benar blok konstruksi kognisi" (Rumelhart, 1981: 33).
  3. Tapi, apakah sebenarnya skemata itu?
    Skemata adalah benar-benar blok konstruksi kognisi" (Rumelhart, 1981: 33).

Biasanya, kutipan yang dijadikan blok tersendiri adalah kutipan yang panjangnya lebih dari 3 baris. Namun dalam kasus-kasus tertentu semisal dalam situs ini, kebiasaan tersebut tidak diikuti. Bahkan kutipan 1 kalimat pun dibuat menjadi blok kutipan dan bahkan diberi warna untuk mencuri perhatian pembaca secara lebih lagi dan untuk memisahkan antara tegas antara kutipan dan bukan kutipan.

Read more...

Sabtu, 12 Juni 2010

Kutipan

Definisi

Mengutip adalah tindakan berbicara atau menuliskan suatu bagian dari perkataan atau tulisan pihak lain. Hasil dari tindakan mengutip tersebut disebut kutipan. Sehingga, kutipan adalah hasil dari tindakan berbicara atau menuliskan suatu bagian dari perkataan atau tulisan pihak lain. Kutipan merupakan pinjaman perkataan atau tulisan pihak lain.

Tujuan kutipan

  1. menegaskan isi uraian
  2. membuktikan apa yang dikatakan
  3. menunjang apa yang diungkapkan

Mengapa kutipan diperlukan

Meneliti kembali apa yang telah diteliti oleh banyak ahli adalah tindakan pemborosan sumber daya, baitu itu sumber daya waktu, dana, maupun manusia. Karena itu, mengutip hasil penelitian yang telah diselidiki oleh orang lain atau oleh banyak orang lain secara mendalam diperbolehkan sebagai bukti. Hasil penelitian orang lain itu diasumsikan/ diyakini benar. Dengan cara ini, ilmu pengetahuan dapat berkembang pesat seperti sekarang. Suatu penelitian didasarkan pada hasil penelitian orang lain, dan pada gilirannya, penelitian itu sendiri nantinya akan dijadikan dasar bagi penelitian selanjutnya. Isaac Newton merumuskan hal ini dengan ungkapan "berdiri di atas pundak raksasa".

If I have seen further than other men, it is because I have stood upon the shoulders of giants.

Jika telah melihat jauh ke depan dibandingkan orang lain, itu karena aku berdiri di atas pundak para raksasa (Letter to Robert Hooke, 15 February 1676 (5 February 1675 kalender Julian))

Jenis Kuipan

Kutipan terdiri dari 2 jenis, yaitu:

  1. Kutipan langsung (kutipan literal)
  2. Kutipan tidak langsung.

Read more...

About Me

Foto saya
Bermula dari ngobrol-ngobrol biasa/ santai tentang berbagai topik antar beberapa teman. Lalu komunitas orang ngobrol itu disebut lingkar studi alias (Study Cycle 'Siklus Belajar'). Ketika beberapa teman itu tersebar ke berbagai daerah akibat pekerjaan dan tidak lagi bisa bertemu di darat, maka internet menjadi pilihan untuk melanjutkan obrolan. Pertama-tama di friendster, lalu facebook, dan situs-situs lain. Karena kesibukan kerja, blog menjadi pilihan utama, mengingat kelebihannya sebagai ajang diskusi yang tidak real time. Lalu, orang-orang yang berminat membaca obrolan dan diskusi pun bertambah, sehingga member dan friend lingkar studi bertambah, bahkan termasuk dari luar negeri. Meski demikian, komunitas ini tidak pernah menjadi organisasi, karena sifatnya sebagai ajang ngobrol ide dan pemahaman melalui blog dan comment, juga forum dan chatting, tidak berubah.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP