Tampilkan postingan dengan label Klausa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klausa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 April 2010

Klausa terikat

Klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur yang tidak lengkap. Dengan kata lain, klausa jenis ini tidak memiliki subyek sekaligus predikat. Karena itu, klausa jenis ini selalu terikat dengan klausa yang lain dan tidak pernah bisa menjadi kalimat mayor.

Klausa terikat biasanya berdiri sebagai jawaban atas suatu pertanyaan atau berdiri di dalam anak kalimat. Klausa terikat yang berdiri di dalam anak kalimat relatif mudah dikenal karena di bagian depan dari klausa terikat tersebut biasa ada konjungsi subordinatif semacam ketika, apabila, kalau, dsj.

Contoh:

  1. Besok sore. (Jawaban untuk kalimat "Kapan kamu berangkat?")
  2. Ketika hujan turun, bukit itu longsor.

Pada contoh nomer 2 di atas, klausa terikat "ketika hujan turun" ditandai dengan konjungsi subordinatif "ketika", dan klausa tersebut membentuk anak kalimat "Ketika hujan turun".

Karena diawali dengan konjungsi subordinatif, maka klausa terikat disebut juga klausa subordinatif (subordinative clause) atau klausa bawahan. Klausa lain yang menjadi tempat klausa terikat itu mengikatkan diri dan hadir bersama-sama dengan kalimat terikat itu disebut sebagai klausa utama (main clause, principal clause) atau klausa atasan. Eksistensi klausa terikat dalam kalimat majemuk bertingkat bergantung pada klausa utama. Jenis klausa utama selalu klausa bebas.

Read more...

Klausa Bebas

Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur kalimat yang lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat.

Contoh:

  1. Bapak sedang pergi
  2. Ibu telah makan

Hanya dengan memberi intonasi final pada klausa bebas, maka klausa tersebut berubah menjadi kalimat mayor. Ini berarti, klausa bebas berpotensi menjadi kalimat mayor.

Klausa Bebas + Intonasi Final → Kalimat Mayor

Contoh:

Bila...

maka

  • kalimat mayor: Bapak sedang pergi?

Kalimat tersebut berasal dari proses sederhana:

Bapak sedang pergi + ? → Bapak sedang pergi?


Read more...

Minggu, 28 Maret 2010

Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif, dengan kata lain, runtutan kata-kata tersebut harus ada yang berfungsi sebagai predikat. Tanpa predikat, tidak ada klausa. Selain fungsi predikat, fungsi lain yang juga perlu ada adalah subyek. Subyek ini bisa berupa subyek eksplisit maupun subyek implisit yang diketahui dari bentuk kata kerjanya, sebagaimana ada dalam bahasa-bahasa tertentu, seperti misal bahasa Yunani, Ibrani, Aram, dan Arab. Bahasa-bahasa semacam ini dikenal sebagai bahasa bersubyek nol. Selain subyek dan predikat, fungsi-fungsi semacam obyek, pelengkap, dan keterangan tidak wajib ada dalam klausa.

Contoh klausa dengan subyek eksplisit


  • Indonesia
    1. Andi pergi
    2. Deni membaca
  • Inggris
    1. She jumped
    2. He run

Contoh klausa dengan subyek implisit (subyek implisit diberi tanda warna merah)

  • Yunani
    1. Μαρτυρω 'Marturō' "Aku berkata"
    2. Μαρτυρετε 'marturete' "Kalian bersaksi"
  • Ibrani
    1. בָּרָא ‘bārā'’ "Dia mencipta"

Kalimat rumit terdiri dari kombinasi beberapa klausa, baik itu kombinasi antara klausa bebas dengan klausa bebas maupun antara klausa bebas dengan klausa terikat.

Contoh kombinasi antara klausa bebas dengan klausa bebas

Kakak belajar, sedangkan adik bermain.

Dalam contoh tersebut, klausa "kakak belajar" dan klausa adik bermain" adalah klausa bebas.


Contoh kombinasi antara klausa bebas dengan klausa terikat


Kalau tidak ada halangan, saya akan pergi besok pagi.


Dalam contoh tersebut, klausa "saya akan pergi besok" adalah klausa bebas, sedangkan klausa "kalau tidak ada halangan" adalah klausa terikat.

Dalam tataran linguistik, tataran klausa berada di bawah kalimat, namun di atas frase. Bila klausa diberi intonasi final, maka terbentuklah kalimat.

Kalimat yang berasal dari klausa menjadi kalimat mayor, sedangkan kalimat yang tidak berasal dari klausa menjadi kalimat minor.

Berdasarkan struktur dan kategori segmentalnya, klausa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis klausa.

Read more...

About Me

Foto saya
Bermula dari ngobrol-ngobrol biasa/ santai tentang berbagai topik antar beberapa teman. Lalu komunitas orang ngobrol itu disebut lingkar studi alias (Study Cycle 'Siklus Belajar'). Ketika beberapa teman itu tersebar ke berbagai daerah akibat pekerjaan dan tidak lagi bisa bertemu di darat, maka internet menjadi pilihan untuk melanjutkan obrolan. Pertama-tama di friendster, lalu facebook, dan situs-situs lain. Karena kesibukan kerja, blog menjadi pilihan utama, mengingat kelebihannya sebagai ajang diskusi yang tidak real time. Lalu, orang-orang yang berminat membaca obrolan dan diskusi pun bertambah, sehingga member dan friend lingkar studi bertambah, bahkan termasuk dari luar negeri. Meski demikian, komunitas ini tidak pernah menjadi organisasi, karena sifatnya sebagai ajang ngobrol ide dan pemahaman melalui blog dan comment, juga forum dan chatting, tidak berubah.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP