Tampilkan postingan dengan label Kalimat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 April 2010

Intonasi final

Intonasi final adalah penurunan pola titi nada pada suku kata-suku kata yang mengikuti tekanan frase dalam kelompok gagasan terakhir dalam kalimat.

Intonasi final dapat berupa

  • intonasi deklaratif yang disimbolkan dengan tanda titik (.) dalam bahasa tulis
  • intonasi tanya yang disimbolkan dengan tanda tanya (?) dalam bahasa tulis
  • intonasi seru yang disimbolkan dengan tanda seru (!) dalam bahasa tulis

Read more...

Sabtu, 20 Maret 2010

Kalimat

Kalimat merupakan satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Karena itu, terkait dengan peranannya sebagai alat interaksi dan dengan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan, kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Ini adalah definisi kalimat secara tradisional. Namun dalam perkembangan ilmu linguistik, definisi kaliamt dikaitkan dengan satuan-satuan yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa).

Dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil tersebut, kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konsituen dasar dan disertai intonasi final serta, bila diperlukan, dilengkapi dengan konjungsi.

Kalimat = konstituen dasar + intonasi final

atau

Kalimat = konstituen dasar + intonasi final + konjungsi

Konstituen dasar dapat berupa:

Intonasi final dapat berupa

  • intonasi deklaratif yang disimbolkan dengan tanda titik (.) dalam bahasa tulis
  • intonasi tanya yang disimbolkan dengan tanda tanya (?) dalam bahasa tulis
  • intonasi seru yang disimbolkan dengan tanda seru (!) dalam bahasa tulis

Konjungsi hanya digunakan bila diperlukan, yaitu bila kalimat tersebut terdiri lebih dari satu konstituen dasar.

Contoh

  1. Dedi sedang menonton televisi di rumah paman.
    • Konsituen dasar kalimat: satu buah klausa bebas, yaitu:
      1. Dedi sedang menonton televisi di rumah paman
    • Intonasi: deklaratif
  2. Dedi sedang menonton televisi di rumah paman dan Miki sedang mendengarkan radio di rumah kakek.
    • Konsituen dasar kalimat: dua buah klausa bebas, yaitu:
      1. Dedi sedang menonton televisi di rumah paman
      2. Miki sedang mendengarkan radio di rumah kakek")
    • Konjungsi: dan
    • Intonasi: deklaratif
  3. Ketika banjir terjadi, Dedi sedang menonton televisi di rumah paman.
    • Konsituen dasar kalimat: satu buah klausa bebas dan satu buah klausa terikat
      1. Klausa bebas: Dedi sedang menonton televisi di rumah paman
      2. Klausa terikat: Banjir terjadi
    • Konjungsi: ketika
    • Intonasi: deklaratif
  4. Televisi! (Kalimat jawaban terhadap kalimat tanya "Dedi sedang menonton apa di rumah paman?")
    • Konsituen dasar kalimat: satu buah kata
    • Intonasi: seru
  5. Rumah paman. (Kalimat jawaban terhadap kalimat tanya "Dedi sedang menonton televisi di rumah siapa?" )
    • Konsituen dasar kalimat: satu buah frase
    • Intonasi: seru

Konstituen dasar kalimat menentukan status kalimat. Kalimat yang konstituen dasarnya berupa klausa menjadi kalimat bebas, sedangkan kalimat yang konstituen dasarnya berupa frase atau kata hanya bisa menjadi kalimat terikat.

Read more...

Jumat, 19 Maret 2010

Kalimat Tak Langsung

Kalimat tak langsung adalah kalimat yang melaporkan apa yang orang katakan tanpa mengutip perkataan secara langsung melainkan mengubah susunan bahasa kalimat langsung dan kalimat pengiringnya menjadi satu kalimat berita majemuk bertingkat. Kalimat pengiring berubah menjadi induk kalimat, kalimat langsung berubah menjadi anak kalimat. Induk kalimat dan anak kalimat dihubungkan dengan tanda koma atau dengan kata hubung "bahwa", "bagaimana", "siapa", "kapan", "agar", dan sebagainya.


Contoh


Konstruksi kalimat langsung


Pak Ahmad bertanya kepada Susi, "Bagaimana cara kamu membuat tempe?"


Konstruksi kalimat tak langsung


Pak Ahmad bertanya kepada Susi bagaimana caranya Susi membuat tempe.


Kalimat tidak langsung ditandai dengan:


  1. Berbentuk kalimat berita majemuk bertingkat
  2. Intonasi pada akhir anak kalimat biasanya menurun.
  3. Tidak menggunakan rangkaian tanda baca koma diikuti tanda kutip ganda (,"...").
  4. Transformasi subyek anak kalimat
    1. Saya —-> Dia
    2. Kamu —–> Saya
    3. Kalian —–> Kami
    4. Kami —–> Mereka
    5. Kita —–> Kami
  5. Antara induk kalimat dan anak kalimat digunakan tanda hubung koma (,) atau kata hubung "bahwa", "bagaimana", "siapa", "kapan", "agar", dan sebagainya.

Read more...

Kalimat Langsung & Kalimat Pengiring

Kalimat langsung (direct sentence) adalah kalimat yang dikutip dari perkataan seseorang. Kalimat langsung memuat peristiwa atau kejadian dari sumber lain dengan mengutip atau mengulang kembali ujaran dari sumber tersebut.


Contoh :


Ibu berkata kepada Budi, "Kamu memang anak baik."


Kalimat "Kamu memang anak baik" adalah kalimat langsung.


Kalimat "Ibu berkata kepada Budi" adalah kalimat pengiring.


Kalimat langsung selalu berada di dalam sepasang tanda kutip ganda ("...") dan intonasi kalimat langsung umumnya lebih tinggi daripada intonasi kalimat pengiring. Pemisah antara kalimat langsung yang berada dalam tanda kutip ganda dan kalimat pengiring adalah tanda koma (,) atau tanda titik dua (:). Tanda titik dua (:) sebagai pemisah jarang digunakan dan tidak baku.


Bila kalimat pengiring berada di belakang kalimat langsung, maka kalimat langsung yang berbentuk kalimat berita diakhiri dengan tanda koma (,).


Contoh:


Ibu berkata kepada Budi, "Kamu memang anak baik."


"Kamu memang anak baik," kata ibu kepada Budi.
Kalimat pengiring juga dapat diletakkan sebelum dan sesudah kalimat langsung.
Contoh:
Ibu berkata kepada Budi, "Kamu memang anak baik," lalu melangkah pergi.
Selain itu, kalimat langsung juga bisa mengapit kalimat pengiring.
Contoh:
"Kamu dipanggil guru," kata Andri menyeringai, "mau dimarahi."
Dalam jenis susunan ini, huruf kapital pada kalimat langsung hanya digunakan pada kalimat langsung yang pertama (yang sebelum kalimat pengiring).

Read more...

About Me

Foto saya
Bermula dari ngobrol-ngobrol biasa/ santai tentang berbagai topik antar beberapa teman. Lalu komunitas orang ngobrol itu disebut lingkar studi alias (Study Cycle 'Siklus Belajar'). Ketika beberapa teman itu tersebar ke berbagai daerah akibat pekerjaan dan tidak lagi bisa bertemu di darat, maka internet menjadi pilihan untuk melanjutkan obrolan. Pertama-tama di friendster, lalu facebook, dan situs-situs lain. Karena kesibukan kerja, blog menjadi pilihan utama, mengingat kelebihannya sebagai ajang diskusi yang tidak real time. Lalu, orang-orang yang berminat membaca obrolan dan diskusi pun bertambah, sehingga member dan friend lingkar studi bertambah, bahkan termasuk dari luar negeri. Meski demikian, komunitas ini tidak pernah menjadi organisasi, karena sifatnya sebagai ajang ngobrol ide dan pemahaman melalui blog dan comment, juga forum dan chatting, tidak berubah.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP