Lagu Cinta
Seorang penyair pernah menggubah lagu cinta yang indah. Lagu itu diperbanyak, dikirimkannya kepada teman dan kenalan, pra dan wanita, dan juga kepada seorang wanita muda yang baru saja dikenalnya — wanita muda yang tinggal di seberang bukit.
Sehari atau dua hari kemudian, balasan surat wanita itu datang. Dalam surat itu tertulis, "Izinkan aku meyakinkan bahwa aku sangat terharu oleh lagu cinta yang kaugubah untukku. Datanglah, temuilah bapak dan ibuku, selanjutnya kita mempersiapkan pertunangan."
Si penyair menjawab surat itu, tulisnya, "Kawan, itu hanya sebuah lagu cinta yang lahir dari kalbu penyair, dinyanyikan oleh setiap pria dan wanita."
Wanita itu menulis surat lagi, bunyinya, "Munafik, pendusta! Sejak hari ini sampai mati aku membenci semua penyair."
(Kahlil Gibran)