Tampilkan postingan dengan label Kahlil Gibran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kahlil Gibran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 November 2010

Pekan Raya

Seorang gadis dari desa pergi ke kota mengunjungi pekan raya. Parasnya molek. Wajahnya mengandung seri bunga Bakung dan Mawar. Rambutnya bak matahari senja. Fajar bagai merekah pada bibirnya.

Begitu muncul gadis desa yang cantik itu, dalam sekejap mata pemuda-pemuda mendekat dan mengerumuninya. Ada yang ingin menari dengannya, ada yang ingin memotong kue untuk menghormatinya. Dan semua ingin mencium pipinya. Bukankah itu dalam pekan raya?

Tapi gadis itu kaget dan terhenyak; ia berprasangka buruk terhadap pemuda-pemuda itu. Ia memaki-maki, bahkan menampar muka satu dua orang, lalu lari menjauh.

Dalam perjalanan pulang malam itu, ia berkata dalam hati, "Aku muak. Laki-laki tak sopan dan kurang ajar. Sialan!"

Setahun lewat sudah, dan selama itu gadis yang amat molek itu sering terkenang akan pekan raya dan anak-anak muda. Maka pergilah ia berkunjung lagi ke pekan raya, dengan wajah mengandung seri bunga Bakung dan Mawar, rambut bak matahari senja, dan fajar merekah pada bibir.

Tapi anak-anak muda yang melihatnya langsung berpaling muka. Sepanjang hari, gadis itu tak ada yang mendekatinya sehingga kesepian.

Sore itu, sepanjang jalan pulang, ia menangis dalam hati, "Aku muak. Laki-laki tak sopan dan kurangajar. Sialan." (Khalil Gibran)

Read more...

Rabu, 29 September 2010

Air Mata dan Gelak Tawa

Suatu senja di tepi Sungai Nil, bertemulah seekor dubuk dengan seekor buaya; keduanya berhenti dan saling memberi salam.

Dubuk berkata, "Apa kabar, Tuan?"

Buaya menjawab, "Buruklah nasibku. Terkadang dalam penderitaan dan kesedihan, aku menangis. Tapi semua makhluk selalu mengatakan 'Itu hanya air mata buaya'. Tiada terkira kata-kata itu melukai hatiku."

Dubuk menyahut, "Tuan mengatakan perihal penderitaan dan kesedihanmu, tapi pikirkan juga barang sejenak pengalamanku. Aku suka memandang keindahan dunia, keanehan, dan keajaibannya, dan karena begitu sukacita, aku tertawa seperti dunia yang lagi bersukaria. Tapi semua penghuni hutan berkata 'Itu hanya gelak tawa dubuk'."

Read more...

Selasa, 17 Agustus 2010

Elang dan Nuri

Nuri dan Elang bertemu di atas batu sebuah bukit. Nuri menyapa,

"Mat Pagi, Tuan."

Elang menatapnya dan menjawab pendek,

"Mat Pagi."

Nuri melanjutkan,

"Baik-baik saja, Tuan?"

"Hai," jawab Elang, "Baik saja. Tapi tak tahukah kamu bahwa aku raja semua burung, sehingga tidak boleh menyapa sebelum aku mengucapkan sesuatu?"

Kata Nuri,

"Saya kira kita sekeluarga."

Elang memandangnya dengan cemooh, ujarnya,

"Siapa yang pernah mengatakan bahwa kamu dan aku sekeluarga?"

Nuri berkata lagi,

"Tapi ingatlah, saya dapat terbang tinggi setinggi terbang Tuan, lagi pula saya dapat menyanyi serta memberi kesenangan kepada makhluk lain di bumi ini. Sedangkan Tuan tidak."

Elang marah, serunya,

"Kesenangan dan kegembiraan! Kamu makhluk kecil dan lancang! Dengan sekali patukan paruh aku dapat membinasakanmu. Kamu cuma sebesar kakiku."

Nuri itu terbang, selanjutnya hinggap di atas punggung Elang dan mencabuti bulunya. Elang marah, melesat terbang membubung agar dapat melepaskan burung kecilitu dari punggung. Tapi tak berhasil. Akhirnya ia turun kembali ke atas batu di bukit semula. Ia makin marah karena makhluk kecil itu masih tetap bertengger di punggungnya.

Saat itu datanglah kura-kura. Ia mendekat dan tertawa melihatnya. Begitu keras ia tertawa sehingga tubuhnya nyaris terbalik.

Elang menatap kura-kura dan ujarnya,

"Hai, Perangkak Lamban, apa gerangan yang kamu tertawakan?"

Jawab kura-kura,

"Ternyata burung kecil itu lebih unggul darimu."

Elang menyahut, "Jangan campur tangan! Ini urusan keluarga antara aku dan kakakku, Nuri.

Read more...

Rabu, 28 Juli 2010

Lagu Cinta

Seorang penyair pernah menggubah lagu cinta yang indah. Lagu itu diperbanyak, dikirimkannya kepada teman dan kenalan, pra dan wanita, dan juga kepada seorang wanita muda yang baru saja dikenalnya — wanita muda yang tinggal di seberang bukit.

Sehari atau dua hari kemudian, balasan surat wanita itu datang. Dalam surat itu tertulis, "Izinkan aku meyakinkan bahwa aku sangat terharu oleh lagu cinta yang kaugubah untukku. Datanglah, temuilah bapak dan ibuku, selanjutnya kita mempersiapkan pertunangan."

Si penyair menjawab surat itu, tulisnya, "Kawan, itu hanya sebuah lagu cinta yang lahir dari kalbu penyair, dinyanyikan oleh setiap pria dan wanita."

Wanita itu menulis surat lagi, bunyinya, "Munafik, pendusta! Sejak hari ini sampai mati aku membenci semua penyair."

(Kahlil Gibran)

Read more...

Lagu Cinta

Seorang penyair pernah menggubah lagu cinta yang indah. Lagu itu diperbanyak, dikirimkannya kepada teman dan kenalan, pra dan wanita, dan juga kepada seorang wanita muda yang baru saja dikenalnya — wanita muda yang tinggal di seberang bukit.

Sehari atau dua hari kemudian, balasan surat wanita itu datang. Dalam surat itu tertulis, "Izinkan aku meyakinkan bahwa aku sangat terharu oleh lagu cinta yang kaugubah untukku. Datanglah, temuilah bapak dan ibuku, selanjutnya kita mempersiapkan pertunangan."

Si penyair menjawab surat itu, tulisnya, "Kawan, itu hanya sebuah lagu cinta yang lahir dari kalbu penyair, dinyanyikan oleh setiap pria dan wanita."

Wanita itu menulis surat lagi, bunyinya, "Munafik, pendusta! Sejak hari ini sampai mati aku membenci semua penyair."

(Kahlil Gibran)

Read more...

Senin, 12 Juli 2010

Pakaian

Suatu hari si Cantik dan si Buruk bertemu di pantai. Keduanya saling mengajak, "Mari kita mandi di laut."

Keduanya menanggalkan pakaian, kemudian berenang. Tak berapa lama si Buruk kembali ke pantai, lalu mengenakan pakaian si Cantik, lantas pergi.

Si Cantik pun kembali ke pantai. Ia tak dapat menemukan pakaiannya; karena malu telanjang, dikenakanlah pakaian si Buruk.

Sampai kini kita tak dapat mengenali mereka masing-masing.

Namun ada juga yang dapat mengenali wajah si Cantik, meski pakaiannya demikian. Dan ada pula yang dapat mengenali wajah si Buruk, karena pakaiannya tak dapat menyembunyikannya.

(Kahlil Gibran)

Read more...

Sang Musafir

Aku berjumpa dia di perempatan – seorang lelaki yang hanya berjubah dan bertongkat, dengan kerudung penderitaan pada wajahnya. Kami saling mengucapkan salam, lalu aku berkata padanya, "Singgahlah ke rumahku sebagai tamu."

Ia pun ikut aku pulang.

Istri dan anakku menyongsong kami di ambang pintu; orang itu tersenyum pada mereka, dan mereka pun menyambut hangat kedatangannya.

Kami duduk makan bersama. Kami pun merasa akrab bersama dia, yang berwajah sunyi dan gaib.

Setelah makan, kami berkumpul dekat pendiangan. Kami bertanya perihal pengembaraannya.

Malam itu ia bercerita panjang kepada kami, begitu pula esok harinya. Wajahnya ramah, tapi tersirat jejak penderitaannya. Kisahnya mengenai derita dan kepedihan sepanjang perjalanan.

Dan bila ia meninggalkan kami tiga hari kemudian, kami pun lebih merasa bahwa seorang di antara kami masih berada di halaman dan belum masuk ke dalam rumah.

(Kahlil Gibran)

Read more...

About Me

Foto saya
Bermula dari ngobrol-ngobrol biasa/ santai tentang berbagai topik antar beberapa teman. Lalu komunitas orang ngobrol itu disebut lingkar studi alias (Study Cycle 'Siklus Belajar'). Ketika beberapa teman itu tersebar ke berbagai daerah akibat pekerjaan dan tidak lagi bisa bertemu di darat, maka internet menjadi pilihan untuk melanjutkan obrolan. Pertama-tama di friendster, lalu facebook, dan situs-situs lain. Karena kesibukan kerja, blog menjadi pilihan utama, mengingat kelebihannya sebagai ajang diskusi yang tidak real time. Lalu, orang-orang yang berminat membaca obrolan dan diskusi pun bertambah, sehingga member dan friend lingkar studi bertambah, bahkan termasuk dari luar negeri. Meski demikian, komunitas ini tidak pernah menjadi organisasi, karena sifatnya sebagai ajang ngobrol ide dan pemahaman melalui blog dan comment, juga forum dan chatting, tidak berubah.

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP